Minggu, 15 November 2009

Perjalanan Terakhir

Perjalanan Terakhir Seorang Pendosa.


"Bila waktu tlah memanggil, tean sejati hanyalah amal

Bila waktu talh terhenti teman sejati tinggallah sepi"

(opick)


Saat perjalanan terakhirku diawali. Malaikat izrail datang menghampiriku. Suara langkah kakinya mengguncang bumi hingga lapis ketujuh. Dia muncul dengan wajah menakutkan. Bulu kudukku berdiri seakan akan ingin tercerabut dari badanku. Dia berteriak dengan lantang kepadaku, tatapannya begitu buas melebihi tatapan ribuan serigala dari segala serigala. Dia kemudian berkata keras, hai anak manusia hari ini aku datang mencabut nyawamu sesuai perintah Tuhanku. Sebelum aku mencabut nyawamu aku akan memperlihatkan catatan-catatan amalmu. Saat itu aku merasa kehausan yang teramat sangat, sesosok mahluk muncul daari arah lain dan bertanya, hai anak manusia apakah kamu merasa kehausan?

Dari arah telingaku kudengar suara saudaraku berbisik pelan, saudaraku… ucapkan laa ilaaha illallah.. muhammadarrosulullah. Mahluk yang tadi muncul belakangan berbisik dikupingku yang lainnya, kalau kamu mau aku kasih air ini jangan ucapkan kata-kata itu. Sementara izrail mulai bersiap-siap mencabut nyawaku didepan mataku mulai terlihat layar tentang kilas balik amalan-amalanku.

Oh… jiwa yang berdosa begitu banyak kesalahanku, aku terlihat berjalan kearah seseorang lalu aku memperdayainya, kuambil barang-barang berharganya, tak kuperdulikan dia menangis meraung-raung dan kebingungan bagaimana ia akan pulang. Selanjutnya muncul gambaran kedua. Aku terlihat memakan uang yang bukan hakku, sambil tertawa kencang aku berteriak, bodoh amat sama mereka yang penting aku senang. Kemudian muncul gambar lain dimana aku sedang melakukan perbuatan zina. Dan masih banayak gambar-gambar yang membuatku malu mengakuinya. Tubuhku gemetaran, kepalaku berputar2 pening. Kurasakan badanku seperti mulai dikuliti tanda malaikat izrail mulai menarik nyawaku secara paksa. Rasa haus kian menyerang, dari telingaku aku mendengarkan lagi isyarat suara yang menyuruhku untuk mengucap syahadat… disisi lain ada suara yang makin gencar berbisik juga jangan ucapkan kalimat itu jika kamu ingin kuberi air minum ini. Semantara itu izrail makin kasar menarik nyawaku keluar, aaaaahhhh…. Aku berteriak lantang, tapi saudara-saudaraku tidak mendengarkannya sama sekali. Sakit sekali, jika golongan manusia mendengarnya niscaya mereka akan pingsan karena ketakutannya. Malaikat izrail semakin ganas, ditariknya nyawaku dengan paksa, badanku terasa dikuliti hidup-hidup.

Duhai raga yang kasar, betapa sakitnya saat nyawaku tertarik darimu. Badanku lunglai seperti kain kotor bekas pel. Kemudian izrail menyeret nyawaku untuk memperhatikan bagaimana tubuh kasarku terlentang. Saudara-saudaraku menangis mengelilingi jasad kasarku. Seorang keluarga kemudian melipat tanganku didada. Keluarga-keluargaku mulai menangis. Yang lain berusaha menenangkan, sudahlah bu… bapak khan orang baik, ikhlaskan saja dan perbanyak doa buat beliau. (aku berpikir dan bergumam aku yang sebegini nistanya saja dibilang orang baik bagaimana jika….ah… aku tak sanggup untuk berpikir lagi. Tak ada waktu, merasakan kesakitan yang luar biasa inipun aku sudah tak sanggup lagi) kemudian perlahan anak pamanku mengambil Quran yang berada di rak buku, begitu bagus dan rapih tanda tak pernah di sentuh. Perlahan bibir indahnya mengalunkan kumandang surat yasin. Aku melihat kearah malaikat yang mengawal rohku yang sudah tercabut. Badannya tinggi dan menakutkan. Setelah mereka bergantian membaca yasin disamping jasadku yang sudah tertutup kain panjang, mereka bersiap2 memandikanku.

Disisi lain ragaku terasa sakit sekali saat mereka mengangkat dan memindahkanku ke belakang tanda akan siap2 dimandikan. Aku dipangku oleh 4 orang kerabatku. Perlahan salah satu dari mereka meminta saudaraku yang lain mengambil serbuk cendana. Yang lainnya mulai menciduk air dengan sebuah gayung dari baskom hitam. Disiraminya ragaku. Ohh… sakit sekali. Titik air yang mengenai badanku seperti ribuan jarum yang menusuk-nusuk kulitku. Saudaraku yang memangku dibagian tengah badanku meminta disiram yang rata. Perlahan tangannya mengambil sabun, dan mulai digosok2nya badanku. Ouugghhh….. tolong pelankan gosokanmu saudaraku. Rasa sakit luar biasa bekas pencabutan nyawa oleh izrail tadi masih begitu menyiksaku. Tolong pelankan lagi gosokan sabunmu itu, aku makin tersiksa. Kuteringat bagaimana baginda rasul berkata kepada jibril saat yang mulia dicabut nyawanya. Yaa jibril, ternyata sakaratul maut itu begitu sakit. Dan jibril pun memalingkan wajahnya kearah lain sambil tanda tidak sanggup melihat rasa sakitnya baginda rasul saat dicabut nyawanya oleh izrail. Padahal prosesi itu dilakukan sangat lembut oleh izrail. Bagaimana penderitaanku yang begitu banyak berdosa ini dapat kamu bayangkan luar biasa sakitnya. Yaa robb, kembalikan aku kedunia agar bisa beramal lebih banyak.

Setelah mengalami penderitaan luar biasa saat dimandikan, perlahan ragaku diangkat kedalam ruangan untuk siap dikafankan. Kulihat beberapa kerabatku menyiapkan kain kafannya. Dipojok kanan kuliahat istriku mulai berhenti menangis. Pandangan matanya kosong. Tangannya merangkul anak2ku yang bingung memandangi jasadku yang mulai dibungkus kain kafan. Tolong aku saudaraku, aku berteriak tanpa suara. biarkan mereka memandangi kembali jasad kasarku untuk terakhir kalinya. Istriku yang kusayang dan anak2ku yang terkasih mulai menangis lagi. Ayah… sesudah itu aku tak jelas lagi mendengar apa yang mereka katakana. Hanya tangisan pilu yang terlontar dari bibir mereka. Ohhhhohooo…. Ya robb, hidupkan aku kembali agar bisa memberikan kasih sayang yang lebih banyak kepada mereka.

Setelah beberapa lama kemudian tamu mulai tambah sesak di rumahku. Rohku di seret menuju halaman rumahku. Disana bertebaran begitu banyak karangan bunga tanda berkabung. Kulihat diantara tamu-tamu yang melayat seorang teman kerjaku (dulu waktu masih hidup aku memanggilnya rival) yang sering aku dzolimi. Dia terlihat bersedih. Aku berteriak kearahnya, hai sobat maafkan aku, maafkan aku yang sering mencurangimu karena kamu lebih unggul dariku, sering menghinamu karena aku merasa lebih berada, lebih tampan, lebih berpangkat dan masih banyak lebih darimu. Tolong maafkan aku. Aku meratap sambil berlutut dihadapannya tapi sepertinya dia sedang asyik mengobrol dengan teman kerja yang lain tentang tugas2ku yang masih pending, deadline kerja sana-sini. Kenangan2ku walau yang buruk2nya tidak dia ceritakan mungkin dengan maksud agar tidak mengungkit kesalahan2 orang yang sudah mati. Ughhh… tolong dengarkan aku temanku, aku ingin mendengar kata penerimaan maafmu. Aku meratap2, akan tetapi malaikat yang mengawalku menarikku dengan paksa agar keruang tengah lagi.


Disana kulihat keranda mayat sudah ada. Jasad kasarku mulai dimasukkan kesana. Sempat kulihat istriku bergeser dan melangkah masuk ke kamar, entah mau apa.

Tak lama kemudian kerandaku mulai di angkat dan ditandu. Aku menatapi orang2 yang berkerumum mulai berdiri sambil mengumandangkan dzikir dan salawat. Perlahan iring2an itu berjalan meninggalkan rumahku. Kerandaku digotong menuju masjid dekat rumah. Sementara waktu aku ditaruh di samping dulu. Terlihat para pelayat melksanakan sholat dzuhur. Setelah selesai sholat fardu, keranda yang berisi jenazahkupun digotong kedepan jamaah yang mulai menyolatkan mayatku. Ragaku masih merasakan sakit yang luar biasa akibat proses pencabutan nyawa oleh malaikat izrail tadi. Setelah selesai disholatkan kerandakupun kemudian diangkut kedalam mobil menuju pemakaman. Disana kulihat istri dan kedua anakku sudah ada. Disampingnya kulihat saudaranya yang mencoba terus menenangkannya. Anak2ku telihat sembab. Mereka ternyata habis menangis juga. Kasihan mereka, mereka masih kecil2 dan tidak tahu apa dan bagaimana mereka nanti ereka tumbuh tanpa didampingiku. Sementara harta yang kutinggalkan banyak uang yang kudapati dengan jalan haram. Ya robb, tolong beritahu istriku agar mengembalikannya kepada yang telah kurampas. Tapi bagaimana dia tahu kalau itu harta haram. Yaa robb, kembalikan aku kedunia lagi. Hidupkan aku kembali agar aku bisa memulangkan semua harta haramku ketempatnya semulaa.


Perlahan mobil jenazah itu melaju kearah pemakaman….

Sesampainya disana, kerandaku dikeluarkan dari dalam mobil. Rohku melayang melihat jasadku yang terbungkus kain kafan mulai dikeluarkan dari keranda. Tiba2 istriku mendadak histeris, oh jangan lakukan itu sayangku. Air matamu takkan mampu kurenangi. Tabahlah. Saudara2ku yang lain menenangkannya. Aku sudah tak sanggup berpikir apa2 lagi. … Aku menangis menatap dunia yang fana ini terakhir untuk kalinya. Tubuhku mulai dimasukan ke liang lahat. Tanah mulai berjatuhan. Aku Terdiam tanpa tau harus bagaimana lagi. Hanya pasrah untuk pengadilan selanjutnya… Selamat tinggal dunia.


(Tulisan ini original. Kalo ada yg salah mohon jangan di cela. Mudah-mudahan bisa kita ambil Ibroh buat Muhasabah kita semua untuk ke depan yg lebih baik. Amin)

1 komentar:

Hary mengatakan...

Mudah2an gw bukan golongan ini. Amin